saklar

valentina citra
2 min readSep 4, 2023
Photo by Karim MANJRA on Unsplash

“Harusnya isi kepala itu ada saklarnya, kan?” aku berujar. Menatap lurus matanya. Sosoknya masih bergeming di seberang.

Kuhela napas sambil menengadahkan kepala. Langit-langit ruangan terasa sama. Langit betulan di luar juga; kusam, pucat, punya sedih yang banyak.

“Kan nanti jadi lebih mudah. Kalau berisik, tekan saja saklarnya lalu klik! Sunyi senyap, tenang, jauh-jauh rasa cemas,” aku melanjutkan ucapanku pada terapisku.

Tunggu.

Terapis.

Terapis.

Terapis?

Terapis apa?

Apanya yang terapis?

Kusadari aku berbicara pada udara kosong. Dan saat kutatap sosok di seberang, kutemukan pantulan diriku di cermin. Aku terbahak. Sial, nampaknya aku mulai benar-benar jadi gila.

Terapis? Konyol. Ia bahkan tidak sempat kukunjungi. Surat rujukannya masih terselip rapi di novel yang selalu kubawa kemana-mana tapi belum sempat kulanjutkan lagi. Reading slump. Kugadaikan waktu satu setengah jam itu demi mengurus persiapan pindah kota.

Aku tahu aku harus menanggalkan tenang ketika memutuskan untuk pindah. Kota ini menyambutku dengan segala bising dan hiruk-pikuk. Menyita pikiran, tenang, dan membiarkan semua kegaduhan itu membengkak layaknya bunga pinjaman rentenir yang tidak segera dibayar.

Di kota ini, waktu tidak ada harganya dan ada harganya.

Sungai dan selokan kota ini diisi keringat para penghuninya. Tidak ada airmata di sana. Karena airmata akan langsung menguap begitu menyentuh aspal maupun sudut-sudut ganjil kota.

Apa yang sudah diperbuat kota ini? Selain memanjangkan jarak antara aku dengan kawan-kawan dan memangkas kemampuanku merangkai kata.

Tiap hari kewarasan dikikis. Tinggal tunggu waktu untuk temui terapis.

Ma, aku harap isi kepalaku ada saklarnya. Bolehkah kutenggak kembali pil-pil yang membuatku lelap seperti beruang hibernasi itu?

--

--

valentina citra

a living mayhem with wandering mind | write in ina / eng | @aleviannt_